Senin, 02 November 2015

otak emosional



Otak Emosional
            Sebelum kita membahas tentang otak emosional, lebih mudahnya jika kita paparkan terlebih dahulu pengertian tentang apa itu emosi, serta bagaimana proses emosi itu terjadi, dan fungsi dari emosi itu sendiri adalah apa. Kemudian barulah kita paparkan, bagian dalam yang terdapat pada otak emosional itu sendiri, yaitu kecerdasan emosinal ,dimana dengan adanya hal tersebut kita mampu memahami kinerja dari otak emosianal tersebut.
            Dalam The Nicomachean Ethics, Aristoteles membahas secara filsafati tentang kebajikan, karakter, dan hidup yang benar, dan tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Sebenarnya masalahnya bukanlah mengenai emosionalitasnya, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikannya. Pertanyaannya adalah, bagaimanakah kita dapat membawa kecerdasan ke emosi kita, dan peradaban ke jalan-jalan serta membawa kepedulian ke dalam kehidupan bersama.[1]
Pengertian Emosi
Emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam jangka waktu yang singkat, serta keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis. Biasanya emosi ini sering ditandai dengan kecenderungan sikap atau reaksi fisiologis sesuai dengan gejolak pikiran yang sedang dirasakan.
Menurut Goleman, Emosi itu lebih merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang sifatnya khas, serta suatu keadaan biologis dan psikologis dalam kecenderungannya untuk bertindak. Biasanya, emosi itu ditandai dengan reaksi terhadap rangsangan yang terjadi dari luar dan dalam diri individu itu sendiri. Sebagai contohnya, emosi gembira biasanya sering mendorong pada perubahan suasana hati seseorang, yang mana akan menimbulkan reaksi fisiologis yang tampak dengan tertawa, sumringah dan lain-lain. Begitupun sebaliknya ketika emosi yang terjadi adalah emosi yang negative atau sedih, biasanya akan mendorong seseorang berperilaku bete’, sedih dan menangis.[2]
 Proses kemunculan emosi melibatkan faktor psikologis maupun faktor fisiologis. Kebangkitan emosi kita pertama kali muncul akibat adanya stimulus atau sebuah peristiwa, yang bisa netral, positif, ataupun negatif. Stimulus tersebut kemudian ditangkap oleh reseptor kita, lalu melalui otak. Kita menginterpretasikan kejadian tersebut sesuai dengan kondisi pengalaman dan kebiasaan kita dalam mempersepsikan sebuah kejadian. Interpretasi yang kita buat kemudian memunculkan perubahan secara internal dalam tubuh kita. Perubahan tersebut misalnya napas tersengal, mata memerah, keluar air mata, dada menjadi sesak, perubahan raut wajah, intonasi suara, cara menatap dan perubahan tekanan darah kita.
Pandangan teori kognitif menyebutkan emosi lebih banyak ditentukan oleh hasil interpretasi kita terhadap sebuah peristiwa. Kita bisa memandang dan menginterpretasikan sebuah peristiwa dalam persepsi atau penilai negatif, tidak menyenangkan, menyengsarakan, menjengkelkan, mengecewakan. Persepsi yang lebih positif seperti sebuah kewajaran, hal yang indah, sesuatu yang mengharukan, atau membahagiakan. Interpretasi yang kita buat atas sebuah peristiwa mengkondisikan dan membentuk perubahan fisiologis kita secara internal, ketika kita menilai sebuah peristiwa secara lebih positif maka perubahan fisiologis kita pun menjadi lebih positif.[3]
Sedangkan fungsi dan peranan dari emosi itu sendiri adalah, sebagai bentuk komunikasi yang mampu mewakilkan perasaan kita pada orang lain, emosi juga berperan penting dalam mempengaruhi kepribadian serta penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial kita. Dengan adanya emosi juga mampu mepertegas peranan cinta tanpa pamrih, serta menuntun kita mampu dalam menghadapi saat-saat kritis, bahkan perasaan kecewa sekalipun. Sebab emosi itu sendiri menawarkan pola persiapan tindakan tersendiri yang mana dari  masing-masing tawaran itu sendiri mampu menuntun kita kea rah yang telah terbukti mampu berjalan baik ketika menangani tantangan yang datang berulang-ulang dalam hidup kita.
Sebagaimana yang kita tau dari pengalaman, apabila masalahnya menyangkut akan pengambilan sebuah keputusan serta tindakan, maka aspek perasaan akan menjadi sama pentingnya dengan nalar. Atau justru menjdai lebih penting. Selama ini kita sudah terlampau lama menekankan pentingnya nilai dan makna rasional murni yang mana menjadi tolok ukur IQ dalam kehidupan manusia. Bagaimanapun itu, kecerdasan tidaklah menjadi lebih berarti apa-apa apabila emosi telah berkuasa.
            Dari pemaparan tentang fungsi emosi itu sendiri, maka kita dapat tarik suatu kejelasan bahwa emosi dalam kehidupan sangat berperan untuk menunjang segala aktifitas yang dilakukan oleh manusia. Penggunaan emosi yang tepat dalam situasi yang tepat dapat memepengaruhi terhadap hasil dari aktifitas yang dilakukan oleh manusia. Maka dari itu, patutlah kita menyadari tentang fungsi emosi pada diri kita serta menempatkan emosi tersebut pada situasi yang tepat.
Dengan kita tepat dalam menggunakan emosi kita maka kitapun akan tepat dalam menghadapi suatu hal. Emosi tidaklah selalu harus diartikan sebagai hal yang buruk untuk dilibatkan dalam sesuatu karena Emosi pada prinsipnya menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda. Oleh karena emosi merupakan reaksi manusiawi terhadap berbagai situasi nyata maka sebenarnya tidak ada emosi baik atau emosi buruk.

Pengertian nafsu
Dalam kamus bahasa Indonesia, nafsu berarti: keinginan, kecendrungan, dorongan jiwa yang kuat untuk melakukan perbuatan entah itu perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk. Nafsu adalah bagian dari jiwa kita yang mendorong kita untuk melakukan sebuah tindakan baik itu tindakan yang menyebabkan kita menjadi sukses maupun tindakan yang menyebabkan kita menjadi orang yang gagal. Setiap dari kita pasti sibuk melakukan sesuatu, sibuk belajar, sibuk bekerja, sibuk beternak ayam atau juga sibuk melamun. Semua kesibukan yang kita lakukan itu semua karena dorongan nafsu. Karena nafsulah kita melakukan sesuatu.
Dari pemaparan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa nafsu itu adalah suatu keinginan yang mendorong kita untuk melakukan suatu tindakan. Dan terkadang dengan adanya dorongan itu justru membuat kebanyakan dari kita menyalah gunakan peran dan arti dari nafsu itu sendiri, sebagai sebuah penyimpangan. Padahal sebenarnya apabila nafsu dapat dilatih dengan baik, maka nafsu akan membuahkan kebijaksanaan, sehingga nafsu menjadi pembimbing pemikiran, nilai dan kelangsungan bagi hidup kita. Akan tetapi nafsu akan dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan apabila kita tidak bisa melatihnya dengan baik, dan menyelaraskannya dengan emosi.
Nafsu itu sendiri muncul karena adanya dorongan yang menciptakan reaksi automatis dalam diri kita, yang berhubungan dengan masalah emosional yaitu rasa takut yang berlebihan yang mendorong kita melakukan tindakan diluar batas ambang kesadaran kita. Sebab rasa takut itulah yang telah memancing kita untuk melakukan tindakan diluar batas itu tanpa lebih dulu mengenali sepenuhnya dan memahami terlebih dulu apa penyebabnya. Menurut para Ahli biologi evolusioner, reaksi automatis semacam itu telah terekam dalam system saraf manusi. Bahkan yang lebih pentingnya lagi reaksi ini menjalankan peran vital dalam tugas utama evolusi pemikiran manusia. Dan hal inilah yang menyebabkan nafsu seringkali menguasai nalar.








[1] Daniel Goleman” Emotional Intelligence”,(Jakarta:PT Gramedia pustaka utama:2006), hlm.xvi
[2] Daniel Goleman, Emotional Intelligence, mengapa EI lebih penting daripada IQ, h. 45

[3] http://yulisubandi.blog.binusian.org/2009/10/19/kecerdasan-emosi-menurut-daniel-goleman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar