Otak Emosional
Sebelum kita
membahas tentang otak emosional, lebih mudahnya jika kita paparkan terlebih
dahulu pengertian tentang apa itu emosi, serta bagaimana proses emosi itu
terjadi, dan fungsi dari emosi itu sendiri adalah apa. Kemudian barulah kita
paparkan, bagian dalam yang terdapat pada otak emosional itu sendiri, yaitu
kecerdasan emosinal ,dimana dengan adanya hal tersebut kita mampu memahami
kinerja dari otak emosianal tersebut.
Dalam The
Nicomachean Ethics, Aristoteles membahas secara filsafati tentang kebajikan,
karakter, dan hidup yang benar, dan tantangannya adalah menguasai kehidupan
emosional kita dengan kecerdasan. Sebenarnya masalahnya bukanlah mengenai
emosionalitasnya, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara
mengekspresikannya. Pertanyaannya adalah, bagaimanakah kita dapat membawa
kecerdasan ke emosi kita, dan peradaban ke jalan-jalan serta membawa kepedulian
ke dalam kehidupan bersama.[1]
Pengertian Emosi
Emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam jangka
waktu yang singkat, serta keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis.
Biasanya emosi ini sering ditandai dengan kecenderungan sikap atau reaksi
fisiologis sesuai dengan gejolak pikiran yang sedang dirasakan.
Menurut Goleman, Emosi itu lebih merujuk pada suatu perasaan dan
pikiran yang sifatnya khas, serta suatu keadaan biologis dan psikologis dalam
kecenderungannya untuk bertindak. Biasanya, emosi itu ditandai dengan reaksi
terhadap rangsangan yang terjadi dari luar dan dalam diri individu itu sendiri.
Sebagai contohnya, emosi gembira biasanya sering mendorong pada perubahan
suasana hati seseorang, yang mana akan menimbulkan reaksi fisiologis yang
tampak dengan tertawa, sumringah dan lain-lain. Begitupun sebaliknya ketika
emosi yang terjadi adalah emosi yang negative atau sedih, biasanya akan
mendorong seseorang berperilaku bete’, sedih dan menangis.[2]
Proses kemunculan emosi melibatkan faktor
psikologis maupun faktor fisiologis. Kebangkitan emosi kita pertama kali muncul
akibat adanya stimulus atau sebuah peristiwa, yang bisa netral, positif,
ataupun negatif. Stimulus tersebut kemudian ditangkap oleh reseptor kita, lalu
melalui otak. Kita menginterpretasikan kejadian tersebut sesuai dengan kondisi
pengalaman dan kebiasaan kita dalam mempersepsikan sebuah kejadian.
Interpretasi yang kita buat kemudian memunculkan perubahan secara internal
dalam tubuh kita. Perubahan tersebut misalnya napas tersengal, mata memerah,
keluar air mata, dada menjadi sesak, perubahan raut wajah, intonasi suara, cara
menatap dan perubahan tekanan darah kita.
Pandangan teori kognitif menyebutkan emosi lebih banyak ditentukan
oleh hasil interpretasi kita terhadap sebuah peristiwa. Kita bisa memandang dan
menginterpretasikan sebuah peristiwa dalam persepsi atau penilai negatif, tidak
menyenangkan, menyengsarakan, menjengkelkan, mengecewakan. Persepsi yang lebih
positif seperti sebuah kewajaran, hal yang indah, sesuatu yang mengharukan,
atau membahagiakan. Interpretasi yang kita buat atas sebuah peristiwa
mengkondisikan dan membentuk perubahan fisiologis kita secara internal, ketika
kita menilai sebuah peristiwa secara lebih positif maka perubahan fisiologis
kita pun menjadi lebih positif.[3]
Sedangkan fungsi dan peranan dari emosi itu sendiri adalah, sebagai
bentuk komunikasi yang mampu mewakilkan perasaan kita pada orang lain, emosi
juga berperan penting dalam mempengaruhi kepribadian serta penyesuaian diri
terhadap lingkungan sosial kita. Dengan adanya emosi juga mampu mepertegas
peranan cinta tanpa pamrih, serta menuntun kita mampu dalam menghadapi
saat-saat kritis, bahkan perasaan kecewa sekalipun. Sebab emosi itu sendiri
menawarkan pola persiapan tindakan tersendiri yang mana dari masing-masing tawaran itu sendiri mampu
menuntun kita kea rah yang telah terbukti mampu berjalan baik ketika menangani
tantangan yang datang berulang-ulang dalam hidup kita.
Sebagaimana yang kita tau dari pengalaman, apabila masalahnya
menyangkut akan pengambilan sebuah keputusan serta tindakan, maka aspek
perasaan akan menjadi sama pentingnya dengan nalar. Atau justru menjdai lebih
penting. Selama ini kita sudah terlampau lama menekankan pentingnya nilai dan
makna rasional murni yang mana menjadi tolok ukur IQ dalam kehidupan manusia.
Bagaimanapun itu, kecerdasan tidaklah menjadi lebih berarti apa-apa apabila
emosi telah berkuasa.
Dari pemaparan tentang fungsi emosi itu sendiri, maka kita
dapat tarik suatu kejelasan bahwa emosi dalam kehidupan sangat berperan untuk
menunjang segala aktifitas yang dilakukan oleh manusia. Penggunaan emosi yang
tepat dalam situasi yang tepat dapat memepengaruhi terhadap hasil dari
aktifitas yang dilakukan oleh manusia. Maka dari itu, patutlah kita menyadari
tentang fungsi emosi pada diri kita serta menempatkan emosi tersebut pada
situasi yang tepat.
Dengan kita tepat dalam menggunakan emosi kita maka kitapun
akan tepat dalam menghadapi suatu hal. Emosi tidaklah selalu harus diartikan
sebagai hal yang buruk untuk dilibatkan dalam sesuatu karena Emosi pada
prinsipnya menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda.
Oleh karena emosi merupakan reaksi manusiawi terhadap berbagai situasi nyata
maka sebenarnya tidak ada emosi baik atau emosi buruk.
Pengertian nafsu
Dalam kamus bahasa Indonesia, nafsu berarti: keinginan,
kecendrungan, dorongan jiwa yang kuat untuk melakukan perbuatan entah itu
perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk. Nafsu adalah bagian dari jiwa
kita yang mendorong kita untuk melakukan sebuah tindakan baik itu tindakan yang
menyebabkan kita menjadi sukses maupun tindakan yang menyebabkan kita menjadi
orang yang gagal. Setiap dari kita pasti sibuk melakukan sesuatu, sibuk
belajar, sibuk bekerja, sibuk beternak ayam atau juga sibuk melamun. Semua
kesibukan yang kita lakukan itu semua karena dorongan nafsu. Karena nafsulah
kita melakukan sesuatu.
Dari pemaparan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa nafsu itu
adalah suatu keinginan yang mendorong kita untuk melakukan suatu tindakan. Dan
terkadang dengan adanya dorongan itu justru membuat kebanyakan dari kita
menyalah gunakan peran dan arti dari nafsu itu sendiri, sebagai sebuah
penyimpangan. Padahal sebenarnya apabila nafsu dapat dilatih dengan baik, maka
nafsu akan membuahkan kebijaksanaan, sehingga nafsu menjadi pembimbing
pemikiran, nilai dan kelangsungan bagi hidup kita. Akan tetapi nafsu akan dapat
dengan mudah menjadi tak terkendalikan apabila kita tidak bisa melatihnya
dengan baik, dan menyelaraskannya dengan emosi.
Nafsu itu sendiri muncul karena adanya dorongan yang menciptakan
reaksi automatis dalam diri kita, yang berhubungan dengan masalah emosional
yaitu rasa takut yang berlebihan yang mendorong kita melakukan tindakan diluar
batas ambang kesadaran kita. Sebab rasa takut itulah yang telah memancing kita
untuk melakukan tindakan diluar batas itu tanpa lebih dulu mengenali sepenuhnya
dan memahami terlebih dulu apa penyebabnya. Menurut para Ahli biologi
evolusioner, reaksi automatis semacam itu telah terekam dalam system saraf
manusi. Bahkan yang lebih pentingnya lagi reaksi ini menjalankan peran vital
dalam tugas utama evolusi pemikiran manusia. Dan hal inilah yang menyebabkan
nafsu seringkali menguasai nalar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar